Kamis, 03 Oktober 2013

Pupuk Organik



PUPUK ORGANIK

Abstrak

Indonesia sejak lama dikenal sebagai negara agraris. Praktek pertanian yang telah berlangsung  lama tentu telah merubah lingkungan  pertanian sekarang ini khususnya  tanah- tanah  pertanian  menjadi  tidak sesubur  waktu  dahulu.  Dengan  kata lain penggunaan  tanah secara  terus  menerus  untuk  bercocok  tanam  telah  menciptakan  kemunduran  tanah  yang ditandai oleh maraknya erosi dan tanah longsor serta kebutuhan pupuk baik organik maupun pupuk  buatan  dengan  jumlah  yang  cukup  besar.  Upaya  untuk  mengembalikan  kesuburan tanah  yang  berkelanjutan  dengan  diantaranya  dapat  dilakukan  dengan  menggunakan  agen pupuk organik yang akhir-akhir ini sedang digemari. Dalam hal ini Limbah organik pertanian merupakan sumber pupuk organik yang penting bagi tanah-tanah pertanian kita.

Kata-kata    kunci:    Pengomposan-Limbah     Organik    Pertanian-Pupuk    Organik-Ramah
Lingkungan

1.      Pendahuluan
1.1       Latar Belakang
Limbah peternakan merupakan produk dari usaha peternakan, yang keberadaannya tidak dikehendaki sehingga harus dibuang. Limbah peternakan terdiri dari banyak jenis sesuai ternak yang menghasilkannya. Usaha budidaya ternak ( sapi ) menghasilkan limbah berupa kotoran ternak ( feces, urine ), sisa pakan ternak seperti potongan rumput, jerami, dedaunan, dedak, konsentrat dan sejenisnya. Selama ini pemanfaatan pupuk organik dimaksud langsung digunakan untuk pemupukan, tanpa melalui proses pengolahan.
Kondisi ini dimungkinkan terjadi mengingat antara lain : tidak disadarinya manfaat dan fungsi pengolahan kotoran sapi, kurangnya pengetahuan proses pembuatan pupuk organik secara sederhana dan cepat, kurangnya pemahaman mengenai nilai tambah pupuk organik dari kotoran ternak dan kurangnya pemahaman para peternak khususnya terhadap dampak negatif yang ditimbulkan dari pencemaran lingkungan oleh kotoran ternak.
Salah satu upaya yang dapat ditempuh dalam meminimalisir dampak yang ditimbulkan oleh limbah ternak ( khususnya kotoran sapi ) secara sederhana dan cepat serta memberikan manfaat ekonomis bagi para peternak adalah melakukan proses pengolahan dengan menggunakan bantuan bakteri “ Romino Bacillus “.
1.2              Tujuan
-          Untuk menyuburkan tanaman yang jauh lebih baik dari pupuk kandang.
-          Proses penyuburannya lebih cepat.

2.      Landasan Teori
Pupuk organik merupakan pupuk yang terbuat dari bahan-bahan alami yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dan dirombak dengan bantuan microorganisme dekomposer seperti bakteri dan cendawan menjadi unsure – unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman. Proses perombakan bahan organik menjadi pupuk organik itu dapat berlangsung secara alami atau buatan.
Penggunaan pupuk organik dalam proses budidaya tanaman sudah dilakukan sejak dulu oleh nenek moyang kita, baik secara sengaja seperti pemanfaatan kotoran ternak/pupuk kandang atau secara tidak sengaja, yaitu adanya seresah yang tertimbun dan akhirnya menjadi humus. Proses alami yang terjadi sebagai anugrah, terus dipelajari dan dilaksanakan pengembangan teknologi sehingga prosesnya menjadi lebih cepat bila dibandingkan berjalan murni secara alami.
Bukan suatu teknologi yang tertinggal apabila kita meninjau kembali adanya komponen-komponen organik sehagai bahan bahan yang dapat membantu memperbaiki ekosistem pertanian, justru merupakan suatu tantangan dan kewajiban bagi kita untuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang telah terjadi. Adanya pengolahan dan pengembalian sisa-sisa tumbuhan dan bahan organik lainnya menjadi substrat penyusun tanah dengan cara pembuatan pupuk-pupuk organik, adalah langkah yang mulia dalam proses kehidupan manusia.
Penambahan pupuk organik pada sistem pertanian organik adalah sangat penting karena dapat memperbaiki sifat fisik tanah ( stuktur dan tekstur tanah ), sifat kimia tanah ( sumber paling utama tersedianya hara tanah, karena unsur hara yang terkandung jenisnya lengkap ), juga dapat dapat memperbaiki sifat biologi tanah ( media hidup mikroorganisme tanah yang bermanfaat ).
Secara umum Peranan/Fungsi Pupuk Organik, adalah sebagai berikut :
· Meningkatkan kemampuan tanah menjerap air
· Meningkatkan kemampuan tanah menjerap nutrisi
· Memperbaiki aerasi tanah
· Sumber unsur hara tanaman yang lengkap
· Sumber energi dan media hidup mokroorganisme tanah
· Memperbaiki warna tanah
Pupuk organik dapat berupa pupuk cair dan pupuk padat. Pupuk cair biasanya berupa air saringan dari pupuk padat, dimaksudkan agar penggunaannya lehih mudah tidak mengandung kotoran dan sekaligus untuk menjaga kelembaban tanah. Pupuk padat dapat berupa pupuk hijau, pupuk seresah, kompos, maupun pupuk kandang. Kesemuanya adalah berpengaruh positif terhadap tanah, jika pemberiannya setelah pupuk itu matang.
Pupuk Organik Padat
1. Pupuk Hijau
Pupuk hijau merupakan pupuk yang bahannya berasal dari tanaman atau komponen tanaman yang dibenamkan ke dalam tanah. Jenis tanaman yang banyak digunakan dan memang lebih baik kualitasnya dibanding tanaman lain adalah jenis/familia Leguminoceae. Jenis tanaman tersebut mengandung unsur hara yang lehih baik, terutama unsur Nitrogen dibanding tanaman lain. Jenis tanaman leguminosa mempunyai daya serap hara yang lebih besar dan mempunyai bintil akar. Di dalam metabolismenya bersimbiosis dengan bakteri “ Rhizobium “ yang dapat mengikat unsur nitrogen dari udara.

Keuntungan yang didapat jika menggunakan pupuk hijau :
a. Mampu memperbaiki struktur dan tekstur tanah serta infiltrasi air.
b. Mencegah adanya erosi
c. Sangat bermanfaat pada daerah-daerah yang sulit dijangkau untuk suplai pupuk anorganik.
d. Manfaat lain spesies pupuk hijau dapat dijadikan sebagai pakan ternak, kayu bakar bahkan sebagai makanan manusia.
Syarat-syarat tanaman pupuk hijau yang akan di pilih adalah sebagai berikut :
· Menghasilkan banyak biomas.
· Dapat menekan dan mengendalikan gulma.
· Prosentase produksi daun lebih besar dari pada bagian yang berkayu.
· Mempunyai kemampuan kemampuan mengikat nitrogennya tinggi dan melepaskan nutrisi pada tanah.
· Berumur pendek, cepat tumbuh, mempunyai kemampuan megakumulasi hara.
Tanaman yang berfungsi sebagai pupuk hijau, selain tanaman kacang-kacangan/polong-polongan, jenis rumput-rumputan ( rumput gajah ), dan Azolla juga baik sebagai bahan pupuk hijau. Tanaman pupuk hijau yang cocok ditanam pada lahan pematang tanaman padi maupun lahan-lahan yang kosong, sedangkan Azolla adalah merupakan jenis tanaman pakuan air yang hidup di perairan.
 Seperti halnya tanaman leguminosae, Azolla mampu menambat N2 udara karena berasosiasi dengan sianobakteri ( Anabaena azollae ) yang hidup di dalam rongga daun Azolla. Menurut Khan ( 1983 ), kemampuan Azolla mengikat N2 dari udara berkisar antara 400 - 500 kg N/ha/tahun. Azolla berkembang Sangat cepat dan dapat menghasilkan biomassa sebanyak 10-15 ton/ha dengan C/N ratio 12 - 18, sehingga dalam waktu satu minggu Azolla telah terdekomposisi dengan sempurna.
2. Pupuk kandang
Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan. Hewan yang kotorannya sering digunakan untuk pupuk kandang adalah hewan yang bisa dipelihara oleh masyarakat, seperti kotoran kambing, sapi, domba, dan ayam.. Selain berbentuk padat, pupuk kandang juga bisa berupa cair yang berasal dari air kencing ( urine ) hewan pupuk kandang mengandung unsur hara makro dan mikro.
 Pupuk kandang padat ( makro ) banyak mengandung unsur fosfor, nitrogen, dan kalium. Unsur hara mikro yang terkandung dalam pupuk kandang di antaranya kalsium, magnesium, belerang, natrium, besi, tembaga, dan molibdenum, kandungan nitrogen dalam urine hewan ternak tiga kali lebih besar dibandingkan dengan kandungan nitrogen dalam kotoran padat.
Pupuk kandang terdiri dari dua bagian, yaitu:
  1. Pupuk dingin adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan secara perlahan oleh mikroorganime sehingga tidak menimbulkan panas, contohnya pupuk yang berasal dari kotoran sapi, kerbau, dan babi
  2. Pupuk panas adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang diuraikan mikroorganisme secara cepat sehingga menimbulkan panas, contohnya pupuk yang berasal dari kotoran kambing, kuda, dan ayam. Pupuk kandang bermanfaat untuk menyediakan unsur hara makro dan mikro dan mempunyai daya ikat ion yang tinggi sehingga akan mengefektifkan bahan-bahan anorganik di dalam tanah, termasuk pupuk anorganik Selain itu, pupuk kandang bisa memperbaiki struktur tanah, sehingga pertumbuhan tanaman bia optomal. Pupuk kandang yang telah siap diaplikasikan memiliki ciri dingin, remah, wujud aslinya tidak tampak, dan baunya telah berkurang Jika belum memiliki ciri-ciri tersebut, pupuk kandang belum siap digunakan. Penggunaan pupuk yang belum matang akan menghambat pertumbuhan tanaman, bahkan bisa mematikan tanaman.Penggunaan pupuk kandang yang baik adalah dengan cara dibenamkan, sehingga penguapan unsur hara akibat prose kimia dalam tanah dapat dikurangi. Penggunaan pupuk kandang yang berbentuk cair paling bauk dilakukan setelah tanaman tumbuh, sehingga unsur hara yang terdapat dalam pupuk kandang cair ini akan cepat diserap oleh tanaman.
3. Kompos
Kompos merupakan sisa bahan organik yang berasal dari tanaman, hewan, dan limbah organik yang telah mengalami proses dekomposisi atau fermentasi. Jenis tanaman yang sering digunakan untuk kompos di antaranya jerami, sekam padi, tanaman pisang, gulma, sayuran yang busuk, sisa tanaman jagung, dan sabut kelapa. Bahan dari ternak yang sering digunakan untuk kompos di antaranya kotoran ternak, urine, pakan ternak yang terbuang, dan cairan biogas. Tanaman air yang sering digunakan untuk kompos di antaranya ganggang biru, gulma air, eceng gondok, dan azola. Beberapa kegunaan kompos adalah:
  1. Memperbaiki struktur tanah.
  2. Memperkuat daya ikat agregat ( zat hara ) tanah berpasir.
  3. Meningkatkan daya tahan dan daya serap air.
  4. Memperbaiki drainase dan pori-pori dalam tanah.
  5. Menambah dan mengaktifkan unsur hara.
Kompos digunakan dengan cara menyebarkannya di sekeliling tanaman. Kompos yang layak digunakan adalah yang sudah matang, ditandai dengan menurunnya temperatur kompos ( di bawah 400 c ).
4.  Humus
Humus adalah material organik yang berasal dari degradasi ataupun pelapukan daun-daunan dan ranting-ranting tanaman yang membusuk ( mengalami dekomposisi ) yang akhirnya mengubah humus menjadi ( bunga tanah ), dan kemudian menjadi tanah. Bahan baku untuk humus adalah dari daun ataupun ranting pohon yang berjatuhan, limbah pertanian dan peternakan, industri makanan, agro industri, kulit kayu, serbuk gergaji ( abu kayu ), kepingan kayu, endapan kotoran, sampah rumah tangga, dan limbah-limbah padat perkotaan.
Humus merupakan sumber makanan bagi tanaman, serta berperan baik bagi pembentukan dan menjaga struktur tanah. Senyawa humus juga berperan dalam pengikatan bahan kimia toksik dalam tanah dan air. Selain itu, humus dapat meningkatkan kapasitas kandungan air tanah, membantu dalam menahan pupuk anorganik larut-air, mencegah penggerusan tanah, menaikan aerasi tanah, dan juga dapat menaikkan fotokimia dekomposisi pestisida atau senyawa-senyawa organik toksik.
Manfaat
Berbagai hasil penelitian mengindikasikan bahwa sebagian besar lahan pertanian intensif menurun produktivitasnya dan telah mengalami degradasi lahan, terutama terkait dengan sangat rendahnya kandungan karbon organik dalam tanah, yaitu 2%. Padahal untuk memperoleh produktivitas optimal dibutuhkan karbon organik sekitar 2,5%. Pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi pencemaran lingkungan, dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan. Penggunaan pupuk organik dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan dapat mencegah degradasi lahan.
Sumber bahan untuk pupuk organik sangat beranekaragam, dengan karakteristik fisik dan kandungan kimia yang sangat beragam sehingga pengaruh dari penggunaan pupuk organik terhadap lahan dan tanaman dapat bervariasi. Selain itu, peranannya cukup besar terhadap perbaikan sifat fisika, kimia biologi tanah serta lingkungan. Pupuk organik yang ditambahkan ke dalam tanah akan mengalami beberapa kali fase perombakan oleh mikroorganisme tanah untuk menjadi humus. Bahan organik juga berperan sebagai sumber energi dan makanan mikroba tanah sehingga dapat meningkatkan aktivitas mikroba tersebut dalam penyediaan hara tanaman.
Penambahan bahan organik di samping sebagai sumber hara bagi tanaman, juga sebagai sumber energi dan hara bagi mikroba.Bahan dasar pupuk organik yang berasal dari sisa tanaman sedikit mengandung bahan berbahaya. Penggunaan pupuk kandang, limbah industri dan limbah kota sebagai bahan dasar kompos berbahaya karena banyak mengandung logam berat dan asam-asam organik yang dapat mencemari lingkungan. Selama proses pengomposan, beberapa bahan berbahaya ini akan terkonsentrasi dalam produk akhir pupuk. Untuk itu diperlukan seleksi bahan dasar kompos yang mengandung bahan-bahan berbahaya dan beracun ( B3 ).
3.      Analisa
Penggunaan pupuk organik saja, tidak dapat meningkatkan produktivitas tanaman dan ketahanan pangan. Oleh karena itu sistem pengelolaan hara terpadu yang memadukan pemberian pupuk organik dan pupuk anorganik perlu digalakkan. Sistem pertanian yang disebut sebagai LEISA ( Low External Input and Sustainable Agriculture ) menggunakan kombinasi pupuk organik dan anorganik yang berlandaskan konsep good agricultural practices perlu dilakukan agar degredasi lahan dapat dikurangi dalam rangka memelihara kelestarian lingkungan.
Pemanfaatan pupuk organik dan pupuk anorganik untuk meningkatkan produktivitas lahan dan produksi pertanian perlu dipromosikan dan digalakkan. Program-program pengembangan pertanian yang mengintegrasikan ternak dan tanaman ( crop-livestock ) serta penggunaan tanaman legum baik berupa tanaman lorong ( alley cropping ) maupun tanaman penutup tanah ( cover crop ) sebagai pupuk hijau maupun kompos perlu diintensifkan.
4.      Daftar Pustaka